Ribuan Suka Satu Cinta

“Aku menyukaimu, Rei!” Atha kembali menegaskan kalimatnya. Ini sudah ke-20 kalinya untuk hari ini dia mengatakan itu pada Reina dan tetap saja gadis yang dituju menunjukkan ekspresi yang sama, bergeming. Atha berbalik, mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja. Kali ini diteguknya air yang hanya tinggal setengah gelas itu sekaligus. Dia kembali berbalik ke Reina setelah mengembalikan gelas tadi ke meja, “Gue suka sama lo.”
“Aku menyukaimu.” Reina masih bergeming tanpa ekspresi. Atha memandang wajah gadis didepannya. Masih sama seperti 3 tahun yang lalu saat gadis itu masih bisa membalas tatapannya, tersenyum, dan menggenggam tangannya erat. Dia kemudian memandangi kalender yang penuh tanda silang di tiap tanggalnya, hari ke 1000. Tinggal sedikit lagi. Hari ini Reina harus menepati janjinya. Dua tahun lebih menunggu bukanlah hal yang mudah. Hanya untuk sebuah janji.
***
“Aku menyukaimu.” Kali ini kalimat yang ke-950. Atha masih bersikeras walau Reina masih diam tanpa reaksi. Tangannya menggenggam tangan Reina yang terus terdiam. Masih sama, tak ada reaksi. “Rei, aku sudah menunggumu lama. Hari ini hari ke seribu. Apa kau akan menepati janjimu?” yang ditanya masih bergeming, “Baiklah, akan kuselesaikan sampai 1000 kali, dan kau harus membalas ucapanku.” Sebulir air menetes dari sudut matanya. “Aku menyukaimu, aku menyukaimu, aku menyukaimu, aku—menyukai—mu,” Dia mulai terbata. Air matanya seperti menyumbat pita suaranya. “Aku menyukaimu…” lanjutnya di tengah sedu.
Dia akan terus melanjutkannya sampai kalimat ke-1000. Tapi matanya tiba-tiba terasa berat. Jam yang melingkar ditangannya menunjukkan jam 5 sore. Atha terlelap di tengah tangisnya.
***
“Rei…” Atha bergumam. Gadis yang dimaksud berbalik, menatap Atha dengan wajah sendu. Ada kesedihan yang mendalam di raut itu.
“Atha…”
“Kau sudah kembali?”
“…”
“Reina…”
“Bisakah kau menungguku sedikit lebih lama lagi?”
“Aku sudah menunggumu sesuai janjiku.”
“Kalau begitu aku akan kembali sekali. Tapi Tha, setelah itu tidak usah menungguku lagi.” Air mata terlihat menetes dari sudut matanya.
“Kenapa? Bukankah kau sudah berjanji?”
“Aku terlalu lemah, Tha.” Lidah Atha kelu seketika. Dia seperti kehilangan kata-kata. Suaranya tercekat di tenggorokan. Beberapa detik kemudian pandangannya kabur. Dia sekarang tidak bisa melihat apapun, buram…
***
Atha terbangun oleh suara bising dari ruang sebelah. Seorang gadis kecil terlihat memeluk seorang pria yang lebih dewasa, mungkin ayahnya. Disampingnya terlihat wanita berumur sekitar 50an yang terlihat tak kalah keras suara tangisnya dibanding gadis kecil tadi. Beberapa saat Atha terdiam. Kejadian yang menimpa mereka memang sudah biasa terjadi. Hal serupa sudah sering ditemuinya selama dia berada di tempat ini. Tetapi kali ini malah membuatnya merasa khawatir. Khawatir hal yang sama juga akan menimpanya. Ia takut Reina juga… Ditepisnya segera pikiran negatifnya jauh-jauh. Dia menghirup napas dalam-dalam. Membiarkan udara disekitarnya memenuhi rongga dadanya lalu mengembuskannya lagi. Dia yakin Reina tidak akan meninggalkannya. Ditatapnya wajah gadis yang dicintainya itu sekali lagi, “Rei, aku menyukaimu.”
“Aku menyukaimu.” Sekarang sudah kalimat ke-998. Reina masih sama. Dua kalimat lagi dan Reina harus memenuhi janjinya. “Aku menyukaimu.” Diulangnya kalimat itu sekali lagi. Ia hanya harus mengucap kalimat yang sama sekali lagi. Diliriknya jam tangannya. Angka digital yang tertera disana telah menunjukkan pukul 21.58. Tiba-tiba Atha merasa gugup. Rasa yang tidak menentu merasukinya. Bagaimana jika Reina tenyata tidak mampu memenuhi janjinya? Apa dia akan kembali? Beribu kekhawatiran menggerogoti pikirannya. Tangannya kembali memegang tangan Reina erat. Dia harus melakukannya. Dia harus bisa mengucapkannya. Tinggal satu kalimat yang sama.
“Rei… aku… menyukaimu.” Ucapnya sedikit ragu. Reina tidak menunjukkan reaksi apapun. Atha menatap wajah dihadapannya itu sekali lagi. Tidak ada respon sedikitpun. Atha tertunduk. Air matanya kembali mengalir. “…tidak usah menungguku lagi.” Ucapan Reina dalam mimpinya tadi terus menggema ditelinganya. Ia semakin menggenggam tangan Reina erat, “Lalu bagaimana dengan janjimu?”
Beberapa detik kemdian, masih tidak ada reaksi.
Digoncangkannya tubuh Reina, masih tak ada reaksi.
Dipanggilnya nama Reina berulang kali, masih tak ada reaksi. Atha mulai putus asa. Dia tertunduk lagi. Kali ini tangisnya benar-benar pecah.
“Atha…” Suara yang cukup lemah itu membuat Atha menengadahkan wajahnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar suara itu.
“Reina.”
“Bodoh, bukankah sudah kubilang aku akan kembali?” Ada segurat senyum di wajah pucat Reina, “kau, menangis.”
“Itu karena aku berpikir kalau kau tidak akan— ”
“Aku kembali menemuimu Tha. Tapi, hanya sekali.”
“…” Atha terdiam. Tidak tahu apa yang bisa dikatakannya. “Setelah 1000 hari aku menemuimu. Setelah 1000 kalimat ‘aku menyukaimu’ yang kuucapkan?”
“Maafkn aku Tha. Aku bena-benar lemah.”
“Rei—”
“Aku mencintaimu, Tha.” Kemudian mata Reina kembali terpejam. Sebuah monitor disamping tempat Reina berbaring terlihat datar. Atha termangu. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Tidak ada satu sendipun yang dapat digerakkanya. Beberapa saat kemudian seorang dokter dan beberapa perawat terlihat masuk tergesa-gesa. Mereka kemudian terlihat sibuk melakukan segala macam pemeriksaan yang bisa dilakukan. Tidak begitu lama, “Pukul 10.00.” Pria berjubah putih berucap setelah melihat jam tangannya, si perempuan yang sepertinya seorang suster disampingnya mencatat. Yang lainnya sibuk mempereteli alat-alat yang sudah bertahun-tahun memenuhi tubuh Reina. Atha memandang nanar kejadian dihadapannya. Kali ini dia tidak mungkin menunggu lagi.
“…tidak usah menungguku lagi.”
***
“Atha…” Reina menggenggam tangan Atha.
“Ya?”
“Setelah ini aku akan tertidur lama sekali.” Atha membalas genggaman tangan itu lebih erat. Dia merasa sedih melihat gadis dihadapannya kini terbaring di rumah sakit dengan berbagai macam alat menempel ditubuhnya.
“Jangan mengatakan itu, Rei. Aku tahu kau akan sembuh.”
“Tunggu aku, Tha. Suatu hari aku akan terbangun untuk menemuimu. Tunggu aku 1000 hari sejak aku tertidur.”
“Aku akan tetap berada disampingmu. Aku berjanji.”
“Ucapkan 1 kalimat saja.”
“Apa itu?”
“Katakan ‘aku menyukaimu’ sekali sehari selama aku tertidur.”
“Akan aku ucapkan 1000 kali sehari. Dan kau harus memenuhi janjimu.”
“Pasti…”

Minggu, 11 November 2012 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar

My MP3

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info